Nama   : Ahmad Fadly Kurniawan

NIM    : 6662180087

Pengaruh demo omnibus law terhadap pandemi COVID-19

 

Di tengah perkembangan COVID-19 di Indonesia, masyarakat dikejutkan dengan keputusan dari Dewan Perwakilan Rakyat yang mengesahkan UU Cipta Kerja pada hari Rabu, 07 Oktober 2020. Hal ini menyebabkan kontroversi yang besar diantara masyarakat. Mulai dari pengerjaanya yang terkesan terburu-buru hingga isi Undang Undang nya yang terkesan tidak memihak terhadap buruh. Tentu saja masyarakay banyak yang menolak hingga berencana turun ke jalan untuk Demo menentang pengesahan Undang – Undang ini.

Namun tentu saja kembali ke realita dimana Indonesia sedang di masa pandemi, banyak yang menganggap bahwa angka penyebaran virus COVID-19, akan mengalami kenaikan yang tinggi dikarenakan masa yang datang dari berbagai tempat, dan sulitnya menerapkan protokol kesehatan di kegiatan demo. Dikutip dari Tempo.co, Ketua Tim Mitigasi Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI), M. Adib Khumaidi, faktor yang akan menjadi penyebab kenaikan angka penyebaran virus COVID-19 juga disebabkan oleh Pelacakan kontak erat (tracing) akan sangat sulit dilakukan karena para demonstran tidak akan saling kenal satu sama lain di lokasi demo tersebut.

Sudah 3 minggu berlalu sejak  demo hari pertama dimulai, dan seperti yang kita tahu, masa “inkubasi” dari virus COVID-19 adalah 14 hari semenjak menginfeksi tubuh korbanya. Jadi jika kegiatan demo UU Cipta Kerja berdampak terhadap penyebaran COVID-19 adalah 14 hari setelah 8 Oktober yakni 22 Oktober.

Sumber: corona.jakarta.go.id

Berikut adalah tangkapan layar yang diambil di website resmi covid-19 jakarta pada tanggal 30 Oktober 2020. Bisa dilihat disini jika kita memperhatikan grafik angka positive di jakarta, terjadi kenaikan yang cukup besar. Namun apakah data tersebut membuktikan bahwa kegiatan Demo yang menyebabkan kenaikan angka penyebaran Covid-19 ini?

Sebenarnya angka kenaikan ini tidak bisa hanya dihitung dari angka positive perhari. Ada hal yang sering dilupakan masyarakat saat mengamati penyebaran COVID-19. Yakni angka test perhari. Karena COVID-19 adalah penyakit yang baru bisa diketahui setelah melalui proses test. Entah itu PCR atau SWAB, sampai saat ini belum ada metode yang bisa memastikan Diagnosa COVID-19 tanpa PCR atau SWAB. Hal ini menjadi penting karena setiap hari,jumlah orang yang di test akan berbeda. Ada yang dalam sehari bisa mencapai 10.000 orang per hari, terkadang hanya 4000 orang per hari. Hal ini yang terkadang membuat tren pasien positive COVID-19 bersifat naik turun.

Grafik diatas adalah jumlah dari masyarakat jakarta yang di test, positve, dan negative dalam satu waktu. Jika kita melihat dari sini, angka Positive dan negative cenderung mengikuti jumlah pasien yang di test. Hal ini yang menyebabkan data tren positive di jakarta bahkan di Indonesia bersifat naik turun. Bukan karena keadaan yang sudah membaik. Namun dikarenakan yang test sedikit. Maka dari itu pemerintah membuat peraturan dengan menetapkan harga test SWAB seharga Rp 900.000, agar harga lebih terjangkau dan semakin banyak orang yang melakukan test dan kita pun bisa mendapat angka yang pasti.

Lalu bagaimana cara kita mengetahui apakah demo memiliki pengaruh terhadap penyebaran COVID-19? Ada yang namanya  Positivity Rate. Positivity Rate adalah angka yang menunjukkan berapa persen dari orang yang di test, mendapat hasil yang positive. Jika memang ada dampak yang besar dari kejadian demo kemarin. Angka positivity rate akan mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan bulan september.

Berikut adalah angka positivity rate harian terhitung dari tanggal 1 September 2020, hingga 29 Oktober 2020. Bisa dilihat disini, perbedaan angka positivity rate dari bulan September dan Oktober bisa terbilang masih sama dan stabil. Bahkan hingga masa inkubasi Virus Covid-19 (yang dimulai sejak tanggal 8 jika mengambil skenario tertular saat demo) selesai, yakni tanggal 22 Oktober 2020. Angka positivity rate masih terbilang stabil bahkkan cenderung menurun sebelum menaik tajam dari 7,6% hingga 13%. Bahkan angka tertinggi masih berada di bulan September sebesar 16.1%.

Hal ini membuktikan bahwa kegiatan Demo yang dilakukan mahasiswa dan warga, tidak begitu berpengaruh terhadap penyebaran Covid-19 di Jakarta. namun tentu saja hal ini bukan berarti kita bisa bebas berdemo dan berkeliaran diluar. Masih ada kemungkinan demonstran tidak mau melakukan test karena satu dan lain hal. Hal yang bisa kita lakukan adalah tetap memberlakukan protokol kesehatan. Memakai masker bila keluar rumah, dan selalu menjaga jarak dengan orang lain.


Comments

Post a Comment